Sophie Scott
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Januari 2016
Ternyata, Google Telah Membayar Rp13,8 Triliun kepada Apple untuk Jadi Mesin Pencari di iPhone
author : Moh. Habib Asyhad
Friday, 22 January 2016 - 03:45 pm
Friday, 22 January 2016 - 03:45 pm
Mashable
Intisari-Online.com - Fakta bahwa Google menjadi mesin pencari di iPhone bukanlah kebetulan semata. Perlu diketahui, telah ada kesepakatan yang mengharuskan Google membayar Rp13,8 triliun kepada Apple.
Rumor tentang berapa berapa banyak uang yang harus dibayar Google kepada Apple untuk menjadi mesin peramban di iPhone telah berhembus bertahun-tahun. Tapi kepastian itu terbongkar melalui transkrip gugatan hak cipta yang dilayangkan Oracle Corp kepada Google.
Dalam gugatannya itu, Oracle menuduh Google menggunakan perangkat Java milinya untuk mengembangkan Android. Kita tahu, sistem operasi Android dimulai ketika diluncurkannya Android alpha pada November 2007.
Angka kesepakatan itu diberikan Google pada 2014 lalu. Seperti dilaporkan Bloomberg, kedua perusahaan itu kemudian bersepakat untuk saling membagi pendapatan—dari iklan pencarian.
(Baca juga kumpulan berita tentang Google)
(Baca juga kumpulan berita tentang Google)
Sementara itu, juru bicara Google dan Apple menolak untuk berkomentar tentang informasi yang dibuka di persidangan itu. Yang jelas, keduanya sangat menyayangka bocornya dokumen yang “sangat sensitif” ini ke publik.
“Informasi ini dapat menghambat penawaran yang sama kepada perusahaan lainnya,” ujar juru bicara Google, seperti dilaporkan Bloomberg.
Selain itu, ada laporan yang menyebut bahwa pada 2014, CEO Yahoo, Marissa Mayer, juga berusaha menawarkan produknya menjadi mesin pencari di iPhone. Sayang, upaya Mayer gagal.
(Mashable)
Sumber: http://intisari-online.com/read/ternyata-google-telah-membayar-rp138-triliun-kepada-apple-untuk-jadi-mesin-pencari-di-iphone
Rabu, 13 Januari 2016
Bagaimana Starbuck Sukses di China yang Kuat Tradisi Ngetehnya?
author : Moh. Habib Asyhad
Wednesday, 13 January 2016 - 02:00 pm

Salah satu kunci kesuksesan Starbucks di China adalah program Partner-Family Forum Programme. Program ini pertama kali diperkenalkan di Beijing, empat tahun yang lalu, yang berfokus pada nilai-nalai dalam keluarga dan masyarakat setempat.
Wednesday, 13 January 2016 - 02:00 pm
Mashable
Intisari-Online.com - Starbucks baru saja mengumumkan peluncuran program terbesarnya di China, Partner-Family Forum Programme, untuk kali keempat. Perusahaan yang identik dengan kopi ini menyebut program ini memiliki banyak manfaat, terutama untuk staf-stafnya.
Sukses di Bejing, Shanghai, Guangzhou, Starbacks masih berencana memperluas ekspansinya di China. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Chengdu. Tidak cukup sampai di situ, Starbucks juga akan memperluas jaringannya di Negeri Tirai Bambu ini pada 2019 nanti.
Pertanyaannya, bagaimana Starbucks meraik kesuksesan di China yang notabene kuat tradisi ngeteh-nya?
Ketika dibuka pertama kali pada 1999, banyak meragukan masa depan Starbucks di negeri Mao Zedong ini yang begitu kuat tradisi ngetehnya. Tapi anggapan itu ternyata sama sekali tidak benar. Hanya dalam waktu 17 tahun, Starbucks telah mengubah serta merevolusi cara pandang orang-orang China dalam meminum kopi.
Salah satu kunci kesuksesan Starbucks di China adalah program Partner-Family Forum Programme. Program ini pertama kali diperkenalkan di Beijing, empat tahun yang lalu, yang berfokus pada nilai-nalai dalam keluarga dan masyarakat setempat. Program ini berusaha melibatkan keluarga mitranya untuk berpartner jangka panjang dengan Starbucks.
Di Chengdu, program ini melibatkan seribuan anggota staf dan keluarga mereka. Bagi barista full-time dan supervisor shift akan mendapatkan tunjangan perumahan, serta program cuti yang disebut dengan “Coffee Break”, yang memungkinkan para pekerjanya untuk memiliki waktu lebih panjang dengan keluarga mereka.
“Di Asia, keluarga adalah titik fokus yang sangat kuat,” ujar presiden grup Starbucks Coffee China/Asia Pasific, John Culver, kepada Mashable. “Itulah sebabnya Starbucks menerapkan nilai-nilai itu.”
Sejak tahun 2006, Starbucks telah menginvestasikan lebih dari US$8 juta untuk komunitas lokal di China—sebagian besar diserahkan kepada Soong Ching Ling Foundation. Menurut Culver, investasi ini akan terus digalakkan untuk menjadikan Starbucks “terintegrasi dengan dalam struktur masyarakat China,”
Tak hanya memperkuat hubungan dengan mitra-mitranya, Starbucks juga terus-terusan menghadirkan inovasi baru yang dianggap relevan dengan pasar di China—terutama yang terkait dengan makanan dan minuman yang cocok dengan selera orang-orang China. Salah satunya adalah menawarkan teh dan kue-kue tradisional khas negeri.
Untuk lebih meningkatkan pengalaman pelanggan, Starbucks juga membuat China Design Studio yang mendesain ruang unik di setiap toko. “Setiap toko di China berbeda (desain) untuk memberikan kehormatan bagi masyarakat setempat,” kata Belinda Wong, presiden Starbucks China.
Tidak seperti kebanyakan toko-toko di AS, Starbucks di China dirancang untuk membuat pelanggannya betah berlama-lama di dalamnya. Bercengkerama bersama kerabat, berdiskusi dengan rekan-rekan, juga pengalaman untuk mempelajari bagaimana kopi diproses. Tak hanya itu, bekerja sama dengan salah satu mal di China, Starbucks juga membuat toko online yang memungkinkan pelanggannya untuk memesan secangkir kopi tanpa harus pergi ke tokonya.
Sumber: http://intisari-online.com/read/bagaimana-starbuck-sukses-di-china-yang-kuat-tradisi-ngetehnya
Label:
BISNIS,
INSPIRASI,
NEWS,
POLA PIKIR,
USAHA
Jumat, 25 Desember 2015
LEBIH DARI 50 MEDIA BERGUGURAN DI TAHUN 2015
By ahmad fauzan on December 21, 2015

AJI menggelar konferensi pers terkait catatan akhir tahun AJI 2015. Foto : AJI
AJI menggelar konferensi pers terkait catatan akhir tahun AJI 2015. Foto : AJI
JAKARTA, KabarKampus – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebut tahun 2015 merupakan tahun bergugurannya media massa. Karena AJI mencatat, pada tahun 2015 ini banyak terjadi kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) setelah perusahaan memutuskan untuk mentutup medianya.
Awal 2015, Harian Jurnal Nasional menutup medianya. Penutupan harian ini membuat terjadinya PHK pekerja dan perselisihan antara pekerja dan perusahaan.
Kemudian di pertengahan tahun, Bloomberg TV Indonesia berhenti beroperasi dan melakukan pemutusan hubungan kerja. Dan di akhir tahun, Harian Bola yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia Group juga melakukan rasionalisasi dengan memutuskan hubungan kerja sejumlah personel.
Selanjutnya pada awal tahun 2016 ini juga, dikabarkan Harian Sinar Harapan yang kesulitan pendanaan akan menghentikan penerbitan awal tahun 2016. Meskipun, salah seorang pendiri Aristides Katopo meyakini suatu saat Harian Sinar Harapan akan hidup lagi. Tides mengumpamakan, seperti nyawa kucing mati berkali-kali, namun hidup lagi berkali-kali.
Selain di Jakarta, belasan media cetak di berbagai daerah di Indonesia juga menutup usahanya karena kesulitan pendanaan. Seperti Koran Selebes dan Koran Inilah Sulsel di Makassar, Harian Jambi Today dan Harian Jambi di Jambi, dan lain-lain.
Data The Nielsen Company, lembaga independen yang memantau industri media merinci jumlah media yang berguguran sepanjang tahun 2015 ini. Dari 117 surat kabar yang dipantau, 16 unit media telah gulung tikar. Sementara untuk majalah dari 170 kini menyisakan 132 majalah.
Suwarjono, Ketua Umum AJI mengatakan, peristiwa PHK yang terjadi di perusahaan media menyisakan masalah yang dianggap merugikan pekerja. Oleh karena itu, AJI menyerukan perusahaan media yang terpaksa berhenti agar segera memenuhi hak-hak pekerja.
“Penyelesaian hak-hak pekerja akan lebih baik apabila bisa dilakukan dalam waktu lebih cepat. Kepada para pekerja yang terkena PHK, agar memahami dan tak ragu menuntut hak-hak mereka,” kata Suwarjono dalam keterangan persnya.
Sumber: http://kabarkampus.com/2015/12/lebih-dari-50-media-berguguran-di-tahun-2015/
Langganan:
Postingan (Atom)